JDIHN LogoKemenkeu Logo
JDIHN LogoKemenkeu Logo
  • Dokumen Hukum
    • Peraturan
    • Monografi
    • Artikel Hukum
    • Putusan Pengadilan
  • Informasi
    • Regulasi
      • Infografis Regulasi
      • Simplifikasi Regulasi
      • Direktori Regulasi
      • Program Perencanaan
      • Penelitian/Pengkajian Hukum
      • Video Sosialisasi
      • Kamus Hukum
    • Informasi Penunjang
      • Tarif Bunga
      • Kurs Pajak
      • Berita
      • Jurnal HKN
      • Statistik
  • Perihal
    • Tentang Kami
    • Struktur Organisasi
    • Anggota JDIHN
    • Prasyarat
    • Kebijakan Privasi
    • FAQ
    • Website Lama
    • Hubungi Kami
FAQ
Prasyarat
Hubungi Kami
Kemenkeu Logo

Pengelola JDIH Kementerian Keuangan:

  • Biro Hukum, Sekretariat Jenderal
  • Alamat:Gedung Djuanda I, Lantai 13-14
    Jl. Dr. Wahidin Raya No 1, Jakarta Pusat
    Surel:kemenkeu.prime@kemenkeu.go.id

JDIH Kemenkeu

  • Profil
  • Struktur Organisasi
  • Berita JDIH
  • Statistik

Tautan JDIH

  • JDIH Nasional
  • Sekretariat Negara
  • Kemenko Perekonomian
  • Anggota Lainnya

Temukan Kami


    Hak Cipta Kementerian Keuangan Republik Indonesia © 2025Situs JDIH Build ID: 15066 (Release-15)

    • UU 43 TAHUN 2009
    • 23 Okt 2009
    • Berlaku
    • Fulltext (440 MB)
    Menimbang
    Mengingat
    MEMUTUSKAN
    Pasal 3
    Pasal 7
    Pasal 8
    Pasal 9
    Pasal 11
    Pasal 13
    Pasal 14
    Pasal 15
    Pasal 20
    Pasal 21
    Pasal 23
    Pasal 25
    Pasal 26
    Pasal 29
    Pasal 32
    Pasal 34
    Pasal 35
    Pasal 39
    Pasal 43
    Pasal 44
    Pasal 45
    Pasal 46
    Pasal 48
    Pasal 49
    Pasal 50
    Pasal 51
    Pasal 52
    Pasal 53
    Pasal 54
    Pasal 55
    Pasal 58
    Pasal 61
    Pasal 65
    Pasal 66
    Pasal 67
    Pasal 69
    BAB VII - ORGANISASI PROFESI DAN PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Organisasi Profesi Pasal 70 (1) Arsiparis dapat membentuk organisasi profesi. (2) Pembinaan organisasi profesi arsiparis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi profesi arsiparis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan Bagian Kedua Peran Serta Masyarakat Pasal 71 (1) Masyarakat dapat berperan serta dalam kearsipan yang meliputi peran serta perseorangan, organisasi politik, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan kearsipan. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diwujudkan dalam ruang lingkup pengelolaan, penyelamatan, penggunaan arsip, dan penyediaan sumber daya pendukung, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kearsipan. (3) Lembaga kearsipan dapat mengikutsertakan masyarakat dalam kegiatan pelindungan, penyelamatan, pengawasan, serta sosialisasi kearsipan.
    Disclaimer:
    Tampilan dokumen ini dibuat atau dikonversi secara semi-otomatis oleh sistem menggunakan metode parsing dari dokumen PDF. Harap selalu memeriksa dokumen sumber untuk isi yang lebih akurat.
    menimbang:
    a.

    bahwa dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mencapai cita- cita nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, arsip sebagai identitas dan jati diri bangsa, serta sebagai memori, acuan, dan bahan pertanggungjawaban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus dikelola dan diselamatkan oleh negara;

    b.

    bahwa untuk menjamin ketersediaan arsip yang autentik dan terpercaya, menjamin pelindungan kepentingan negara dan hak-hak keperdataan rakyat, serta mendinamiskan sistem kearsipan, diperlukan penyelenggaraan kearsipan yang sesuai dengan prinsip, kaidah, dan standar kearsipan sebagaimana dibutuhkan oleh suatu sistem penyelenggaraan kearsipan nasional yang andal;

    c.

    bahwa dalam menghadapi tantangan globalisasi dan mendukung terwujudnya penyelenggaraan negara dan khususnya pemerintahan yang baik dan bersih, serta peningkatan kualitas pelayanan publik, penyelenggaraan kearsipan di lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan harus dilakukan dalam suatu sistem penyelenggaraan kearsipan nasional yang komprehensif dan terpadu; Ditjen Peraturan Perundang-undangan d. bahwa ketentuan dan pengaturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kearsipan masih bersifat parsial dan tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan sehingga perlu diatur secara komprehensif dalam suatu undang-undang tersendiri;

    e.

    bahwa penyelenggaraan kearsipan nasional saat ini pada dasarnya belum bersifat terpadu, sistemik, dan komprehensif yang semuanya tidak terlepas dari pemahaman dan pemaknaan umum terhadap arsip yang masih terbatas dan sempit oleh berbagai kalangan, termasuk di kalangan penyelenggara negara;

    f.

    bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan perlu disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang dipengaruhi oleh perkembangan tantangan nasional dan global serta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi;

    g.

    bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf f perlu membentuk Undang-Undang Republik Indonesia tentang Kearsipan;

    mengingat:

    Pasal 5 ayat (1), Pasal 20, dan Pasal 28F Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan


    MEMUTUSKAN:

    Menetapkan:

    UNDANG-UNDANG TENTANG KEARSIPAN. Ditjen Peraturan Perundang-undangan BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

    1.

    Kearsipan adalah hal-hal yang berkenaan dengan arsip.

    2.

    Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    3.

    Arsip dinamis adalah arsip yang digunakan secara langsung dalam kegiatan pencipta arsip dan disimpan selama jangka waktu tertentu.

    4.

    Arsip vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan apabila rusak atau hilang.

    5.

    Arsip aktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus menerus.

    6.

    Arsip inaktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun.

    7.

    Arsip statis adalah arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan, telah habis retensinya, dan berketerangan dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan 8. Arsip terjaga adalah arsip negara yang berkaitan dengan keberadaan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara yang harus dijaga keutuhan, keamanan, dan keselamatannya.

    9.

    Arsip umum adalah arsip yang tidak termasuk dalam kategori arsip terjaga.

    10.

    Arsiparis adalah seseorang yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan/atau pendidikan dan pelatihan kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan.

    11.

    Akses arsip adalah ketersediaan arsip sebagai hasil dari kewenangan hukum dan otorisasi legal serta keberadaan sarana bantu untuk mempermudah penemuan dan pemanfaatan arsip.

    12.

    Lembaga kearsipan adalah lembaga yang memiliki fungsi, tugas, dan tanggung jawab di bidang pengelolaan arsip statis dan pembinaan kearsipan.

    13.

    Lembaga negara adalah lembaga yang menjalankan cabang-cabang kekuasaan negara meliputi eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lembaga lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

    14.

    Arsip Nasional Republik Indonesia selanjutnya disebut ANRI adalah lembaga kearsipan berbentuk lembaga pemerintah nonkementerian yang melaksanakan tugas negara di bidang kearsipan yang berkedudukan di ibukota negara. Ditjen Peraturan Perundang-undangan 15. Arsip daerah provinsi adalah lembaga kearsipan berbentuk satuan kerja perangkat daerah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kearsipan pemerintahan daerah provinsi yang berkedudukan di ibukota provinsi.

    16.

    Arsip daerah kabupaten/kota adalah lembaga kearsipan berbentuk satuan kerja perangkat daerah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kearsipan pemerintahan daerah kabupaten/kota yang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota.

    17.

    Arsip perguruan tinggi adalah lembaga kearsipan berbentuk satuan organisasi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang melaksanakan fungsi dan tugas penyelenggaraan kearsipan di lingkungan perguruan tinggi.

    18.

    Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang melakukan kegiatan dengan tujuan memperoleh keuntungan atau laba yang berbentuk badan hukum yang didirikan dan/atau berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    19.

    Pencipta arsip adalah pihak yang mempunyai kemandirian dan otoritas dalam pelaksanaan fungsi, tugas, dan tanggung jawab di bidang pengelolaan arsip dinamis.

    20.

    Unit pengolah adalah satuan kerja pada pencipta arsip yang mempunyai tugas dan tanggung jawab mengolah semua arsip yang berkaitan dengan kegiatan penciptaan arsip di lingkungannya.

    21.

    Unit kearsipan adalah satuan kerja pada pencipta arsip yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan kearsipan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan 22. Jadwal retensi arsip yang selanjutnya disingkat JRA adalah daftar yang berisi sekurang- kurangnya jangka waktu penyimpanan atau retensi, jenis arsip, dan keterangan yang berisi rekomendasi tentang penetapan suatu jenis arsip dimusnahkan, dinilai kembali, atau dipermanenkan yang dipergunakan sebagai pedoman penyusutan dan penyelamatan arsip.

    23.

    Penyusutan arsip adalah kegiatan pengurangan jumlah arsip dengan cara pemindahan arsip inaktif dari unit pengolah ke unit kearsipan, pemusnahan arsip yang tidak memiliki nilai guna, dan penyerahan arsip statis kepada lembaga kearsipan.

    24.

    Penyelenggaraan kearsipan adalah keseluruhan kegiatan meliputi kebijakan, pembinaan kearsipan, dan pengelolaan arsip dalam suatu sistem kearsipan nasional yang didukung oleh sumber daya manusia, prasarana dan sarana, serta sumber daya lainnya.

    25.

    Pengelolaan arsip dinamis adalah proses pengendalian arsip dinamis secara efisien, efektif, dan sistematis meliputi penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan, serta penyusutan arsip.

    26.

    Pengelolaan arsip statis adalah proses pengendalian arsip statis secara efisien, efektif, dan sistematis meliputi akuisisi, pengolahan, preservasi, pemanfaatan, pendayagunaan, dan pelayanan publik dalam suatu sistem kearsipan nasional.

    27.

    Akuisisi arsip statis adalah proses penambahan khasanah arsip statis pada lembaga kearsipan yang dilaksanakan melalui kegiatan penyerahan arsip statis dan hak pengelolaannya dari pencipta arsip kepada lembaga kearsipan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan 28. Sistem kearsipan nasional yang selanjutnya disingkat SKN adalah suatu sistem yang membentuk pola hubungan berkelanjutan antarberbagai komponen yang memiliki fungsi dan tugas tertentu, interaksi antarpelaku serta unsur lain yang saling mempengaruhi dalam penyelenggaraan kearsipan secara nasional.

    29.

    Sistem informasi kearsipan nasional yang selanjutnya disingkat SIKN adalah sistem informasi arsip secara nasional yang dikelola oleh ANRI yang menggunakan sarana jaringan informasi kearsipan nasional.

    30.

    Jaringan informasi kearsipan nasional yang selanjutnya disingkat JIKN adalah sistem jaringan informasi dan sarana pelayanan arsip secara nasional yang dikelola oleh ANRI.

    31.

    Daftar pencarian arsip yang selanjutnya disingkat DPA adalah daftar berisi arsip yang memiliki nilai guna kesejarahan baik yang telah diverifikasi secara langsung maupun tidak langsung oleh lembaga kearsipan dan dicari oleh lembaga kearsipan serta diumumkan kepada publik. BAB II MAKSUD, TUJUAN, ASAS, DAN RUANG LINGKUP Bagian Kesatu Maksud dan Tujuan Pasal 2 Undang-Undang ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam penyelenggaraan kearsipan nasional. Ditjen Peraturan Perundang-undangan

    Pasal 3

    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    f.
    g.
    h.
    b.
    c.
    d.
    e.
    f.
    g.
    h.
    i.
    j.
    k.
    l.
    m.
    n.
    (2)
    (2)
    (3)
    (4)
    (5)
    (6)

    Pasal 7

    b.
    c.
    d.
    e.
    f.
    g.
    h.
    i.
    j.

    Pasal 8

    (1)
    (2)
    (3)
    (4)

    Pasal 9

    (1)
    (2)
    a.
    b.
    c.
    (3)
    (4)
    (2)

    Pasal 11

    a.
    b.
    c.
    (2)

    Pasal 13

    a.
    b.
    c.

    Pasal 14

    (1)
    a.
    b.
    c.
    (2)

    Pasal 15

    (3)
    a.
    b.
    c.
    d.
    (4)
    a.
    b.
    c.
    d.
    (2)
    (3)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    (2)
    a.
    c.
    d.
    (2)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.

    Pasal 20

    (1)

    Pasal 21

    (2)
    (3)
    (4)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    f.

    Pasal 23

    a.
    b.
    (2)
    (3)
    (4)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    f.

    Pasal 25

    a.
    b.

    Pasal 26

    (2)
    (3)
    (4)
    a.
    a.
    b.

    Pasal 29

    (2)
    b.
    c.
    d.
    (3)

    Pasal 32

    (1)

    Pasal 34

    (1)
    (2)
    (3)
    (5)
    (6)

    Pasal 35

    (1)
    (2)
    (3)
    (2)
    (3)
    (4)
    (2)
    (2)

    Pasal 39

    (1)
    (2)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    (2)
    a.
    b.
    c.
    (3)
    (4)
    (2)
    (3)
    (4)
    (2)
    (3)
    (4)

    Pasal 43

    (1)
    (2)
    (4)
    (5)

    Pasal 44

    (1)
    a.
    b.
    c.
    d.
    e.
    f.
    h.
    i.
    (2)
    (3)

    Pasal 45

    (1)
    (2)

    Pasal 46

    (2)
    (3)

    Pasal 48

    (1)
    (2)
    (3)

    Pasal 49

    a.
    c.

    Pasal 50

    Pasal 51

    (1)
    a.
    b.
    c.
    d.
    (2)
    (3)

    Pasal 52

    (1)
    (2)

    Pasal 53

    (1)
    (2)
    (3)
    (4)
    (5)
    (6)
    (7)
    b.
    (8)

    Pasal 54

    Pasal 55

    (2)
    a.
    b.
    c.
    a.
    b.
    c.
    d.
    (2)

    Pasal 58

    (1)
    (2)
    (2)
    a.
    b.
    c.
    d.
    (3)
    (4)

    Pasal 61

    (1)
    (2)
    (2)
    (2)
    (2)
    (3)
    (4)

    Pasal 65

    (1)
    (2)

    Pasal 66

    (1)
    (2)
    (3)
    a.
    b.
    c.
    e.
    f.
    g.
    h.
    i.
    (4)
    (5)
    (6)
    (7)

    Pasal 67

    (2)
    (3)

    Pasal 69

    (1)
    (3)

    BAB VII
    ORGANISASI PROFESI DAN PERAN SERTA MASYARAKAT Bagian Kesatu Organisasi Profesi Pasal 70 (1) Arsiparis dapat membentuk organisasi profesi. (2) Pembinaan organisasi profesi arsiparis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai organisasi profesi arsiparis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ditjen Peraturan Perundang-undangan Bagian Kedua Peran Serta Masyarakat Pasal 71 (1) Masyarakat dapat berperan serta dalam kearsipan yang meliputi peran serta perseorangan, organisasi politik, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan kearsipan. (2) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diwujudkan dalam ruang lingkup pengelolaan, penyelamatan, penggunaan arsip, dan penyediaan sumber daya pendukung, serta penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kearsipan. (3) Lembaga kearsipan dapat mengikutsertakan masyarakat dalam kegiatan pelindungan, penyelamatan, pengawasan, serta sosialisasi kearsipan.

    Pasal 72

    a.
    b.

    Pasal 73

    (1)
    a.
    b.
    c.
    (2)
    (3)

    Pasal 74

    Pasal 75

    b.
    c.

    Pasal 76

    Pasal 77

    (3)

    Pasal 79

    (1)
    (2)
    (3)

    Pasal 80

    (1)
    (2)
    (3)

    Pasal 82

    Pasal 83

    Pasal 84

    Pasal 85

    Pasal 86

    Pasal 87

    Pasal 88

    (2)

    Pasal 91

    Pasal 92